Apakah aku sudah siap menikah?
Di tengah gempuran kabar para sepupu yang satu per satu sudah menikah, aku bersyukur pertanyaan yang datang kepadaku bukan cuma “Kapan menikah?”, tapi sekarang sering lengkap dengan, “Udah ada calonnya belum?” 😅
Ya, kamu nggak salah baca. "Calon."
Semakin ke sini, di usia yang sudah segini (sebut saja segini 😅), dorongan untuk menikah terasa makin kuat. Bukan hanya datang dari dalam diri, tapi juga dari luar — dari dunia nyata sampai dunia maya.
Di dunia nyata, misalnya. Sepupu menikah, teman menikah, dan pertanyaan-pertanyaan pun mulai berdatangan:
“Kapan nyusul?” dari teman atau sepupu.
“Kamu kapan?” dari paman, bibi, atau tetangga.
“Ada seseorang, lho…” dari rekan kerja.
Sementara di dunia maya, tanpa pernah aku cari, FYP-ku tiba-tiba penuh dengan konten pernikahan: dekorasi, MUA, wedding tips, sampai curhatan rumah tangga. Semua muncul sendiri seolah berkata, “Yuk, nikah.”
Dan di titik itulah aku mulai bertanya dalam hati:
“Sebetulnya, aku ini sudah siap menikah atau belum?”
Dalam perjalanan hidupku, pernikahan bukan hal yang aku abaikan. Bahkan sudah sejak lama aku punya plan, paling tidak dalam pikiran:
Menikah, kalau tiga hal ini sudah tercapai — finansial, ilmu, dan mental.
Tiga indikator itu jadi semacam panduan pribadi untuk menilai: aku siap atau belum. Tapi sekarang, rasanya belum juga sampai ke target itu… sementara dorongan dari sekitar terus datang.
Lingkungan menilai bahwa dari usia dan pekerjaan, aku sudah pantas. Bahkan ada yang bilang, “Ilmu dan mental itu nanti juga bisa sambil jalan.”
Tapi… benarkah begitu?
Aku jadi ragu. Di satu sisi, aku ingin konsisten dengan indikatorku. Tapi di sisi lain, aku juga khawatir:
Apakah tolak ukur yang kupakai ini masih relevan?
Entahlah. Aku masih mencari jawabannya.
Yang jelas, hari ini aku hanya ingin menuliskan pertanyaan ini, dan mengaku bahwa aku juga manusia yang masih berpikir, masih belajar, dan masih menimbang-nimbang arah langkah.
Apakah aku sudah siap menikah?
Pertanyaan ini belum selesai. Tapi aku percaya, pada waktunya, jawabannya akan muncul — pelan-pelan, bersamaan dengan kesiapan itu sendiri.
Kalau kamu juga lagi berada di titik yang sama, merasa “didorong” menikah dari berbagai arah, mungkin kita bisa saling berbagi pikiran di kolom komentar.
Atau cukup baca dan senyum, juga nggak apa-apa. 😊
.png)
Comments
Post a Comment