Kadang kepikiran juga, kalau beberapa kawan atau keluarga yang menawarkan "jodoh", sebenarnya itu bentuk usaha mereka membukakan jalan — tapi aku yang malah ga kunjung chat 😅
Apa ya perspektif mereka? Takutnya aku dikira ga percaya diri, terlalu pemalu, atau bahkan ga niat.
Padahal kalau diingat-ingat, jujur aja, dulu waktu di bangku sekolah aku tuh cukup aktif. Naksir adik kelas, cari cara dapetin pin BBM (nostalgia banget ya), terus lanjut chat ðŸ¤
Mungkin itu fase penasaran aja — masa-masa semangat cari koneksi walau belum ngerti arah tujuannya ke mana. Tapi sejak masuk kuliah, sudut pandangku pelan-pelan berubah.
Aku jadi lebih hati-hati.
Kadang mikir juga, “Jangan-jangan aku yang ge-er?”
Takutnya cewek yang aku ajak chat itu jadi baper, naruh rasa, padahal aku sendiri belum bisa kasih kepastian apa-apa.
Jadi daripada bikin orang berharap tanpa arah, sekarang aku lebih milih buat chat seperlunya aja.
Kalau emang udah siap — entah siap dari hati, logika, atau hidup — baru deh pelan-pelan mulai obrolan.
Bukan cuma buat iseng, tapi buat tujuan yang jelas.
Lagipula seperti yang pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya, aku masih punya indikator-indikator yang jadi acuan — soal finansial, mental, dan ilmu.
Dan kalau belum nyampe ke situ, rasanya belum pantas aja untuk mulai melibatkan orang lain dalam perjalanan ini.
Makanya, di saat orang lain mungkin asyik chat-an entah sama siapa aja, aku malah lagi asyik buka aplikasi cleaner buat bersihin RAM
Atau scroll medsos sekadar ngikutin topik terkini.
Kedengarannya receh, tapi ya itulah versi aku saat ini: mencoba tetap waras, meski kadang banyak pikiran.
Comments
Post a Comment