Skip to main content

Air Terjun Terinting

Halo sahabat pembaca, selamat datang kembali dipostingan yang singkat-singkat. Nah, kesempatan ini saya ingin berbagi cerita tentang destinasi wisata yang bisa menjadi rekomendasi untuk sahabat sekalian kunjungi. Destinasi wisata yang akan saya ceritakan terletak pada Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Mendengar nama Kabupaten Landak mungkin terasa tidak asing buat sebagian sahabat pembaca. Nama Kabupaten Landak berasal dari bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, LAN artinya Pulau dan DAK artinya Dayak, dikarenakan mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak. Mungkin sahabat pembaca sekalian yang tertarik dengan sejarah Kabupaten Landak lebih jauh bisa mengunjungi situs resmi pemerintah Kabupaten Landak. Oke, kita lanjut lagi cerita tentang destinasi wisatanya. Destinasi wisata yang saya kunjungi adalah Riam Terinting. Riam Terinting merupakan salah satu air terjun tertinggi di Kalimantan Barat. Riam Terinting berlokasi di Kabupaten Landak, Kecamatan Air Besar, Desa Sempatung Lawek atau yang lebih dikenal dengan Serimbu. 
 



Rute Perjalanan
Dari Ibukota provinsi Kalimantan Barat-Pontianak, waktu yang ditempuh menuju Kabupaten Landak sekitar 4-5 jam perjalanan. Setelah itu, dilanjutkan perjalanan menuju daerah serimbu (disini sahabat pembaca bisa menentukan desa atau dusun mana yang dituju sesuai tour guide yang dihubungi). Untuk sampai ke sana juga membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 2 jam. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi selama 6-7 jam di jalur setapak dan mendaki dengan medan perkebunan, sungai dan hutan.

Penginapan dan Pendakian
Sesampai di desa Serimbu sahabat pembaca bisa menginap satu malam terlebih dahulu di penginapan atau rumah tour guide yang akan memandu kita melakukan perjalanan ke Riam Terinting. Desa Serimbu terletak di pusat Kecamatan Air Besar sehingga sahabat tidak perlu khawatir apabila stock makanan ada yang kurang karena berdekatan dengan pasar.
Lanjut ke hari besoknya sahabat akan melakukan perjalanan ke titik awal pendakian dengan menggunakan sepeda motor kurang lebih 10 menit. Selanjutnya perjalanan jalur setapak dan mendaki dimulai. Medan yang akan ditempuh adalah perkebunanan dan tak jarang akan berpapasan dengan warga yang sedang berkebun. Dilanjutkan lagi dengan medan sungai, sahabat akan melintas menyebrang sungai dengan arus kecil. Lalu medan hutan, selama perjalanan tersebut sahabat akan disuguhkan pemandangan hutan hujan yang masih alami dan akan menemui tanaman hutan yang bisa dikonsumsi. Selama perjalanan tersebut akan dihadapkan dengan tanjakan dan turunan, sehingga sahabat harus tetap fokus dan menjaga keseimbangan agar sampai tujuan dengan aman dan lancar.
Untuk menginap didekat air terjun sahabat diharuskan membawa perlengkapan seperti tenda. Kurang lebih view yang didapat diposisi kita menginap adalah seperti gambar berikut.
 


Berikut beberapa dokumentasi perjalanan dan momen di Riam Terinting.

Jalur Perkebunan

Jalur Sungai

Tampak dari jauh Riam Terinting

 
Riam Terinting


 

Seperti itulah sedikit pengalaman saya ke Riam Terinting. Buat pemula seperti saya memang terasa sulit, tapi terbayarkan ketika sampai di tempat tujuan. Selain perjalanannya, momen sulit dan juga menantang adalah ketika akan mengambil air dari air terjun yang harus turun ke tebing batu yang licin karena basah dan menahan tumbukan air dari atas.
 
Nah sahabat, mungkin segitu dulu pengalaman penulis yang bisa dibagikan. Sampai bertemu kembali dipostingan singkat lainnya. Sampai Jumpa. Da.. da.. (Lambaikan tangan ke pembaca)

Comments

Popular posts from this blog

Pintu Sudah Terbuka, Tapi Kenapa Belum Masuk?

Kadang kepikiran juga, kalau beberapa kawan atau keluarga yang menawarkan " jodoh ", sebenarnya itu bentuk usaha mereka membukakan jalan  — tapi aku yang malah ga kunjung chat  😅 Apa ya perspektif mereka? Takutnya aku dikira ga percaya diri, terlalu pemalu, atau bahkan ga niat. Padahal kalau diingat-ingat, jujur aja, dulu waktu di bangku sekolah aku tuh cukup aktif. Naksir adik kelas, cari cara dapetin pin BBM (nostalgia banget ya), terus lanjut chat 🤭 Mungkin itu fase penasaran aja — masa-masa semangat cari koneksi walau belum ngerti arah tujuannya ke mana.  Tapi sejak masuk kuliah, sudut pandangku pelan-pelan berubah. Aku jadi lebih hati-hati. Kadang mikir juga, “Jangan-jangan aku yang ge-er?” Takutnya cewek yang aku ajak chat itu jadi baper, naruh rasa, padahal aku sendiri belum bisa kasih kepastian apa-apa. Jadi daripada bikin orang berharap tanpa arah , sekarang aku lebih milih buat chat seperlunya aja. Kalau emang udah siap — entah siap dari hati, logi...

Apakah aku sudah siap menikah?

Apakah aku sudah siap menikah? Di tengah gempuran kabar para sepupu yang satu per satu sudah menikah, aku bersyukur pertanyaan yang datang kepadaku bukan cuma “Kapan menikah?”, tapi sekarang sering lengkap dengan, “Udah ada calonnya belum?” 😅 Ya, kamu nggak salah baca. "Calon." Semakin ke sini, di usia yang sudah segini (sebut saja segini 😅), dorongan untuk menikah terasa makin kuat. Bukan hanya datang dari dalam diri, tapi juga dari luar — dari dunia nyata sampai dunia maya. Di dunia nyata, misalnya. Sepupu menikah, teman menikah, dan pertanyaan-pertanyaan pun mulai berdatangan: “Kapan nyusul?” dari teman atau sepupu. “Kamu kapan?” dari paman, bibi, atau tetangga. “Ada seseorang, lho…” dari rekan kerja. Sementara di dunia maya, tanpa pernah aku cari, FYP-ku tiba-tiba penuh dengan konten pernikahan: dekorasi, MUA, wedding tips, sampai curhatan rumah tangga. Semua muncul sendiri seolah berkata, “Yuk, nikah.” Dan di titik itulah aku mulai bertanya dalam hati: “Sebetulnya, aku...

Sedikit Cerita, Sedikit Refleksi

Halo sahabat pembaca, selamat datang kembali di postingan yang singkat-singkat. Selama ini, blog ini mungkin dikenal sebagai tempat berbagi tugas kuliah, catatan perjalanan wisata, atau bahkan sedikit cerita fiksi. Semuanya aku tuliskan sebagai bagian dari perjalanan hidup, belajar, dan berbagi rasa. Belakangan ini, aku merasa ada banyak cerita lain yang juga ingin aku bagi. Cerita-cerita yang lahir dari pengalaman pribadi, pemikiran yang tumbuh perlahan, dan pelajaran kecil dari keseharian. Karena itu, mungkin mulai dari postingan berikutnya, teman-teman akan menemukan nuansa yang sedikit berbeda.  Oh iya, mungkin teman-teman juga akan memperhatikan satu perubahan kecil dalam gaya tulisan. Sebagai bagian dari perubahan kecil ini, aku juga mulai menulis dengan kata ganti "aku" agar ceritanya terasa lebih dekat dan personal. Tapi jangan kaget kalau di beberapa tulisan, aku tetap menggunakan "saya"—karena semuanya akan menyesuaikan dengan suasana dan konte...