Skip to main content

Teka Teki Kuning



Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang cewek bernama Maya. Maya adalah seorang siswi SMA yang ceria dan berbakat. Ia memiliki sifat penyendiri dan sering kali malu mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, terutama kepada cowok yang selama ini menjadi pujaan hatinya, Raka.

Raka adalah cowok yang lumayan dikenal oleh banyak siswi di sekolah. Dia memiliki senyum yang menawan dan kepribadian yang hangat. Setiap kali Maya melihat Raka, hatinya berdesir kencang, namun dia tidak pernah bisa mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.

Suatu hari, menjelang masa ujian sekolah, Raka pulang ke rumah dengan motor Beat karbu berwarna biru kesayangannya. Saat memarkir motornya di garasi, dia merasa ada yang menempel di saku motornya. Ketika Raka mengeluarkan kertas sticky note kuning yang menempel, dia melihat tulisan yang menarik perhatiannya, "See you in the future."

Raka merasa heran dan penasaran tentang arti dari tulisan tersebut. Siapa yang menuliskannya dan apa maksud di balik pesan itu? Tanpa berpikir panjang, dia mengambil foto kertas tersebut dan mempostingnya di akun Instagramnya dengan caption "Hayo siapa yang nempel." Ia berharap ada seseorang yang dapat memberikan petunjuk atau mengklarifikasi pesan tersebut.

Namun, postingan tersebut tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan. Banyak orang yang berkomentar dan membagikan postingan tersebut, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang menempelkan kertas tersebut atau apa maksud sebenarnya. Raka merasa penasaran yang tinggi karena teka-teki tersebut tidak terpecahkan, namun perlahan-lahan ia mulai melupakan hal tersebut seiring perjalanan hidup yang terus berjalan.

Enam tahun berlalu, Raka iseng membuka arsip feed Instagramnya dan menemukan kembali foto kertas sticky note kuning tersebut. Pandangannya terfokus pada tulisan yang ada di kertas itu, dan seketika itu juga kenangan tentang teka-teki itu kembali memenuhi pikirannya. Rasa penasaran Raka yang sudah terpendam selama ini kembali membara.

Raka memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut. Dia mulai menggali informasi melalui akun-akun Instagram teman-teman perempuannya yang saling mengenal dengannya. Ia berharap menemukan cewek dengan tulisan tangan yang sama seperti yang ada di kertas tersebut. Raka melakukan stalking secara halus dan berhati-hati, memeriksa setiap foto dan postingan, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Tidak ada yang memiliki tulisan tangan serupa.

Waktu terus berjalan, dan Raka semakin dekat dengan lulus dari perguruan tinggi. Kehidupan mereka berdua terus berjalan, masing-masing fokus pada karier dan kehidupan pribadi mereka. Raka dan Maya mungkin tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi satu sama lain selama ini.

Namun, cerita tentang teka teki kertas sticky note kuning tersebut tidak terpecahkan. Raka masih berharap bahwa pemilik kertas itu adalah Maya, cewek yang selalu ada di benaknya. Begitu juga dengan Maya, yang mungkin masih menyimpan perasaan terhadap Raka namun tak pernah berani mengatakannya. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, tetapi cerita cinta mereka masih menunggu jawaban dan kelanjutan yang belum terungkap.

Mungkin suatu saat nanti, di tengah perjalanan hidup yang berliku, takdir akan mempertemukan mereka kembali dan mengungkapkan teka teki di balik kertas sticky note kuning tersebut. Sampai saat itu tiba, cerita ini akan terus mengambang dalam keheningan, menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan jalan cerita yang menarik dan memikat hati.

 

Disclaimer:

Cerita yang ditampilkan di atas adalah fiktif dan merupakan hasil dari imajinasi. Segala kesamaan dengan orang, tempat, atau peristiwa nyata adalah kebetulan semata. Tidak ada niat untuk menyinggung, menjelekkan, atau merugikan pihak mana pun dalam cerita ini. Cerita ini dibuat semata-mata untuk tujuan hiburan dan kreativitas.

Comments

Popular posts from this blog

Pintu Sudah Terbuka, Tapi Kenapa Belum Masuk?

Kadang kepikiran juga, kalau beberapa kawan atau keluarga yang menawarkan " jodoh ", sebenarnya itu bentuk usaha mereka membukakan jalan  — tapi aku yang malah ga kunjung chat  😅 Apa ya perspektif mereka? Takutnya aku dikira ga percaya diri, terlalu pemalu, atau bahkan ga niat. Padahal kalau diingat-ingat, jujur aja, dulu waktu di bangku sekolah aku tuh cukup aktif. Naksir adik kelas, cari cara dapetin pin BBM (nostalgia banget ya), terus lanjut chat 🤭 Mungkin itu fase penasaran aja — masa-masa semangat cari koneksi walau belum ngerti arah tujuannya ke mana.  Tapi sejak masuk kuliah, sudut pandangku pelan-pelan berubah. Aku jadi lebih hati-hati. Kadang mikir juga, “Jangan-jangan aku yang ge-er?” Takutnya cewek yang aku ajak chat itu jadi baper, naruh rasa, padahal aku sendiri belum bisa kasih kepastian apa-apa. Jadi daripada bikin orang berharap tanpa arah , sekarang aku lebih milih buat chat seperlunya aja. Kalau emang udah siap — entah siap dari hati, logi...

Apakah aku sudah siap menikah?

Apakah aku sudah siap menikah? Di tengah gempuran kabar para sepupu yang satu per satu sudah menikah, aku bersyukur pertanyaan yang datang kepadaku bukan cuma “Kapan menikah?”, tapi sekarang sering lengkap dengan, “Udah ada calonnya belum?” 😅 Ya, kamu nggak salah baca. "Calon." Semakin ke sini, di usia yang sudah segini (sebut saja segini 😅), dorongan untuk menikah terasa makin kuat. Bukan hanya datang dari dalam diri, tapi juga dari luar — dari dunia nyata sampai dunia maya. Di dunia nyata, misalnya. Sepupu menikah, teman menikah, dan pertanyaan-pertanyaan pun mulai berdatangan: “Kapan nyusul?” dari teman atau sepupu. “Kamu kapan?” dari paman, bibi, atau tetangga. “Ada seseorang, lho…” dari rekan kerja. Sementara di dunia maya, tanpa pernah aku cari, FYP-ku tiba-tiba penuh dengan konten pernikahan: dekorasi, MUA, wedding tips, sampai curhatan rumah tangga. Semua muncul sendiri seolah berkata, “Yuk, nikah.” Dan di titik itulah aku mulai bertanya dalam hati: “Sebetulnya, aku...

Sedikit Cerita, Sedikit Refleksi

Halo sahabat pembaca, selamat datang kembali di postingan yang singkat-singkat. Selama ini, blog ini mungkin dikenal sebagai tempat berbagi tugas kuliah, catatan perjalanan wisata, atau bahkan sedikit cerita fiksi. Semuanya aku tuliskan sebagai bagian dari perjalanan hidup, belajar, dan berbagi rasa. Belakangan ini, aku merasa ada banyak cerita lain yang juga ingin aku bagi. Cerita-cerita yang lahir dari pengalaman pribadi, pemikiran yang tumbuh perlahan, dan pelajaran kecil dari keseharian. Karena itu, mungkin mulai dari postingan berikutnya, teman-teman akan menemukan nuansa yang sedikit berbeda.  Oh iya, mungkin teman-teman juga akan memperhatikan satu perubahan kecil dalam gaya tulisan. Sebagai bagian dari perubahan kecil ini, aku juga mulai menulis dengan kata ganti "aku" agar ceritanya terasa lebih dekat dan personal. Tapi jangan kaget kalau di beberapa tulisan, aku tetap menggunakan "saya"—karena semuanya akan menyesuaikan dengan suasana dan konte...